Batu Bara

Pemanfaatan Batu Bara Nasional Sepanjang 2025 Masih Didominasi Kegiatan Ekspor

Pemanfaatan Batu Bara Nasional Sepanjang 2025 Masih Didominasi Kegiatan Ekspor
Pemanfaatan Batu Bara Nasional Sepanjang 2025 Masih Didominasi Kegiatan Ekspor

JAKARTA - Pemanfaatan energi fosil masih menjadi penopang utama sektor energi nasional sepanjang 2025. 

Batu bara mencatatkan peran signifikan dengan volume penggunaan yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan pasar global dan domestik. Pemerintah menilai capaian ini mencerminkan stabilitas produksi sekaligus tantangan pengelolaan energi ke depan.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral menyampaikan bahwa total pemanfaatan batu bara sepanjang tahun mencapai 790 juta ton. Dari jumlah tersebut, porsi terbesar dialokasikan untuk ekspor dengan kontribusi mencapai 65 persen. Sisanya digunakan untuk kebutuhan dalam negeri serta penyimpanan stok strategis nasional.

Sebanyak 514 juta ton batu bara dikirim ke pasar ekspor untuk memenuhi permintaan internasional. Sementara itu, sekitar 254 juta ton dimanfaatkan untuk kebutuhan domestik di berbagai sektor. Adapun 22 juta ton lainnya disimpan sebagai cadangan untuk menjaga ketahanan pasokan.

Dominasi Ekspor dalam Struktur Pemanfaatan

Ekspor menjadi penopang utama penyerapan batu bara nasional sepanjang tahun berjalan. Permintaan dari berbagai negara mendorong tingginya pengiriman batu bara Indonesia ke pasar global. Kondisi ini memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu eksportir batu bara terbesar dunia.

Pemerintah menegaskan bahwa tingginya ekspor tidak terlepas dari kontrak jangka panjang yang telah disepakati sebelumnya. Kesepakatan tersebut membuat sebagian besar produksi diarahkan ke luar negeri. Situasi ini tetap diimbangi dengan pengawasan terhadap kebutuhan energi domestik.

“Pemanfaatan batu bara selama 2025 kurang lebih hampir 800 juta ton, itu 65% ekspor, domestiknya 35%,” kata Bahlil. Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pemerintah menjaga keseimbangan antara ekspor dan konsumsi dalam negeri. Pengaturan ini dinilai penting agar tidak mengganggu pasokan nasional.

Peran Batu Bara untuk Kebutuhan Domestik

Pemanfaatan batu bara dalam negeri masih difokuskan untuk mendukung sektor ketenagalistrikan. Pembangkit listrik tenaga uap menjadi pengguna terbesar batu bara domestik. Selain itu, sektor industri non-kelistrikan juga turut menyerap pasokan dalam jumlah signifikan.

Batu bara domestik juga dimanfaatkan untuk mendukung program hilirisasi. Industri pengolahan dan produksi pupuk menjadi bagian dari strategi pemanfaatan energi ini. Langkah tersebut sejalan dengan kebijakan peningkatan nilai tambah sumber daya alam.

Pemerintah menilai alokasi domestik tetap terjaga meskipun ekspor mendominasi. Distribusi dilakukan dengan mempertimbangkan kebutuhan sektor strategis nasional. Dengan skema ini, stabilitas pasokan energi di dalam negeri tetap menjadi prioritas.

Perkembangan Lifting Minyak Sepanjang Tahun

Selain batu bara, kinerja sektor minyak bumi juga menjadi perhatian pemerintah. Realisasi lifting minyak rata-rata tercatat mencapai 605,3 ribu barel per hari. Capaian tersebut setara dengan 100,05 persen dari target yang ditetapkan dalam anggaran.

Produksi minyak menunjukkan fluktuasi sepanjang tahun. Level terendah terjadi pada Oktober dengan capaian sekitar 567 ribu barel per hari. Sementara itu, peningkatan signifikan tercatat pada Desember dengan produksi mencapai sekitar 652,9 ribu barel per hari.

Kenaikan produksi di akhir tahun menjadi sinyal positif bagi sektor hulu migas. Pemerintah menilai adanya perbaikan kinerja lapangan produksi. Upaya optimalisasi terus dilakukan untuk menjaga tren positif tersebut.

Tantangan dan Stabilitas Lifting Gas Bumi

Untuk gas bumi, rata-rata lifting sepanjang tahun mencapai 951,8 ribu barel setara minyak per hari. Angka tersebut bergerak relatif stabil dalam rentang 913 hingga 978 ribu barel setara minyak per hari. Meski demikian, capaian ini masih berada di bawah target anggaran.

Produksi gas menghadapi sejumlah tantangan struktural. Faktor lapangan produksi dan dinamika permintaan global menjadi kendala utama. Kondisi tersebut membuat target produksi belum sepenuhnya tercapai.

Pemerintah terus mendorong optimalisasi pengelolaan gas bumi. Upaya peningkatan efisiensi dan investasi hulu menjadi fokus utama. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kinerja produksi ke depan.

Arah Pemanfaatan Gas untuk Domestik dan Ekspor

Pemanfaatan gas bumi tercatat mencapai 5.600 BBTUD. Dari jumlah tersebut, sekitar 69 persen digunakan untuk kebutuhan domestik. Sementara itu, 31 persen dialokasikan untuk pasar ekspor.

Konsumsi domestik gas didominasi sektor hilirisasi industri. Sekitar 2.091 BBTUD atau 37 persen digunakan untuk kegiatan hilirisasi. Sisanya dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan lain seperti jaringan gas, pembangkit listrik, dan LNG.

“Pemanfaatan gas bumi kita, itu 31 persen untuk ekspor karena mereka sebelum POD sudah kontrak,” kata Bahlil. Ia menegaskan bahwa porsi domestik tetap menjadi prioritas utama. Pemerintah memastikan pengelolaan gas mendukung ketahanan energi nasional.

Rekomendasi

Index

Berita Lainnya

Index