JAKARTA - Kunjungan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, menghadirkan nuansa hangat dan penuh makna.
Agenda ini tidak sekadar bentuk silaturahmi, tetapi juga menekankan keseimbangan antara adab, pendidikan, dan teknologi. Kehadiran Wapres menjadi momentum memperkuat relasi antara pesantren, ulama, dan negara.
Tabarukan ke Kediaman Sesepuh Pesantren
Sejak tiba di halaman utama pesantren, Wapres disambut hangat oleh pimpinan dan sepuh pesantren. Langkah pertama beliau adalah mengunjungi rumah almarhum sesepuh Pesantren Cipasung, Abah KH Koko Komarudin Ruhiyat, sebagai bentuk tabarukan dan penghormatan.
Aksi sederhana ini menunjukkan kedalaman sikap hormat Wapres terhadap para ulama pendiri pesantren.
Di kediaman tersebut, Wapres menyaksikan ruang khusus bersejarah tempat pesan dan amanat disampaikan oleh pendiri pesantren.
Pesan itu kini menjadi relevan dengan upaya negara dalam memperkuat pendidikan pesantren. Kehadiran Wapres di ruangan ini sekaligus menegaskan kesinambungan antara sejarah, tradisi, dan kebijakan modern.
Meninjau Pelatihan AI dan Robotik Santri
Setelah tabarukan, Wapres melanjutkan agenda ke Gedung Pusat Media dan Teknologi Pesantren Cipasung. Di sana, beliau menyaksikan pelatihan AI dan robotik yang diikuti ratusan santri dengan penuh antusias. Interaksi langsung dengan santri menunjukkan apresiasi terhadap kreativitas dan inovasi generasi muda pesantren.
Para santri mempresentasikan karya berbasis kecerdasan buatan yang menampilkan kemampuan teknis dan kreativitas tinggi. Wapres mengaku terkesan dengan progres pesat mereka dalam memahami teknologi. Pesan beliau tegas, pesantren tidak hanya menjadi pusat ilmu dan akhlak, tetapi juga harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan teknologi.
Gestur Sederhana Menunjukkan Kepemimpinan dan Kesantunan
Saat keluar dari gedung, hujan deras menyambut Wapres. Dengan payung hitam di tangan, beliau tetap memimpin dengan sederhana, memayungi pimpinan pesantren yang mendampinginya. Tindakan ini menjadi cermin nyata dari adab, kesantunan, dan kepemimpinan yang harmonis.
Gestur sederhana Wapres ini memicu apresiasi mendalam dari keluarga besar pesantren. Mereka menilai bahwa jabatan dan kepemimpinan sejatinya harus berjalan seiring dengan penghormatan kepada ulama. Momen payung hitam ini menjadi simbol nyata hubungan akhlakul karimah dan jabatan publik.
Ziarah Pendiri dan Refleksi Pendidikan Pesantren
Kunjungan ditutup dengan ziarah ke makam pendiri Pesantren Cipasung, Abah KH Ruhiyat, dan dilanjutkan salat Ashar. Wapres menyampaikan kesan mendalam tentang relevansi amanat pendiri pesantren bagi penguatan pendidikan dan teknologi pesantren saat ini.
Semua rangkaian kegiatan, mulai tabarukan, dialog dengan santri, hingga ziarah, menekankan pentingnya sinergi antara adab, pendidikan, dan inovasi teknologi.
Bagi keluarga besar pesantren, kunjungan Wapres bukan sekadar agenda kenegaraan. Ini menjadi pengingat bahwa kepemimpinan, jabatan, dan kemajuan teknologi harus selaras dengan penghormatan, kesantunan, dan nilai-nilai pesantren.
Kunjungan ini menegaskan bahwa integrasi tradisi dan inovasi merupakan kunci untuk mencetak generasi santri yang berakhlak mulia sekaligus melek teknologi.