JAKARTA - Matras judo di Convention Hall, The Mall Korat, Thailand, berguncang hebat saat Sahrul Sulaiman menorehkan ippon di final nomor J1/J2 -81 kilogram.
Kemenangan ini menambah medali emas bagi Indonesia pada ASEAN Para Games 2025. Bagi Sahrul, prestasi ini tak hanya soal angka di papan poin, tapi juga makna personal yang dalam.
Kejayaan di Final Judo
Sahrul yang berasal dari Medan, Sumatera Utara, menunjukkan kemampuan matang di matras. Di final nomor tunggal, dia berhasil mengalahkan lawan-lawannya dengan strategi yang presisi. Selain meraih emas perorangan, Sahrul juga memenangkan nomor beregu bersama Setiawan dan Khoirul Anwar.
Perjalanan Sahrul di APG 2025 menjadi catatan kedua emasnya dari tiga kali partisipasi. Pada APG 2022 di Indonesia, Sahrul juga sukses menjuarai nomor perorangan. Sementara pada edisi 2023 di Kamboja, dia harus puas membawa pulang medali perak perorangan dan emas beregu.
Keluarga sebagai Motivasi
Kemenangan Sahrul tak lepas dari dukungan keluarga. Istri, anak-anak, dan orang tua menjadi sumber kekuatan yang mendorongnya berlatih keras setiap hari. Bahkan bayi bungsu yang belum genap setahun menjadi alasan disiplin latihan, diet, dan fokus di setiap detik matras.
Sahrul menekankan bahwa prestasi bukan hanya miliknya, tetapi kemenangan bersama keluarga. Setiap medali yang dibawa pulang menjadi simbol doa, cinta, dan tanggung jawab seorang ayah. Keberhasilan ini juga menegaskan peran keluarga sebagai fondasi mental para atlet.
Pertarungan Melawan Rekan Senegara
Persaingan sengit datang dari rekan senegara di nomor round robin. Sahrul harus menghadapi Azis Rizal Saepul, yang sudah mengenal pola teknik dan keunggulan lawannya. Pertandingan ini menjadi duel mental yang menuntut fokus dan kesabaran tinggi.
Setelah mengatasi lawan senegara, Sahrul menaklukkan Al Jaed Pacheco dari Filipina. Lalu dia tampil dominan atas Phayaksa Adithep dari Thailand dengan ippon. Pada laga terakhir, wakil tuan rumah, Chaisin Kittikai, juga ditundukkan dengan teknik presisi dan kontrol ritme yang matang.
Strategi dan Kematangan Teknik
Kunci keberhasilan Sahrul terletak pada pengendalian tempo dan strategi. Dia tahu kapan menunggu dan kapan menekan lawan. Setiap serangan dihitung, setiap pegangan dijaga, memastikan tidak ada celah bagi lawan untuk memanfaatkan situasi.
Keberhasilan di APG 2025 menjadi indikator kesiapan teknik dan kematangan taktik. Latihan disiplin yang dilalui sejak lama membantu Sahrul menguasai setiap aspek pertandingan. Pengalaman menghadapi lawan tangguh menambah ketenangan dan konsistensi performa di momen krusial.
Persiapan Menuju Tantangan Berikutnya
Selepas APG 2025, Sahrul sudah memikirkan Asian Para Games 2026 di Jepang. Persiapan menuju ajang ini menuntut adaptasi terhadap intensitas lebih tinggi dibanding ASEAN. Program latihan fisik, kekuatan, dan strategi digabungkan agar tubuh yang tidak lagi muda mampu bersaing dengan lawan Asia.
Selain fokus pada fisik dan teknik, Sahrul juga menaruh harapan pada pemberdayaan oleh pemerintah.
Kesempatan bekerja dan melanjutkan kehidupan pasca karier atlet menjadi hal penting baginya. Investasi, menabung, dan persiapan jangka panjang menjadi bagian dari strategi hidup, namun dukungan pemerintah akan menambah rasa aman dan motivasi.
Melalui disiplin, pengalaman, dan fondasi keluarga yang kuat, Sahrul Sulaiman membuktikan prestasi bukan hanya soal juara di matras.
Emas APG 2025 menjadi penanda bahwa jalur yang dia pilih tepat. Setiap jatuh bangun mengajarkannya bahwa keluarga menjadi alasan untuk terus berjuang, menggetarkan matras dengan tekad dan hati yang utuh.